Home / Fiqih Muamalah / UANG PANJAR DALAM ISLAM

UANG PANJAR DALAM ISLAM

0leh:  Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Dalam jual beli dikenal ragam cara membayar. Di antaranya ada istilah uang panjar. Uang panjar, oleh sebagian orang, dibedakan dengan uang muka atau ‘dp’ (down payment).

Uang muka atau ‘dp’ dibayarkan pembeli kepada penjual setelah barang diterima, sedangkan uang panjar diberikan meskipun barang belum diterima.

Jual beli dengan uang panjar dalam fiqih disebut ba`i al `arbun. Dalam Al Madkhal al Fiqhi al `Am, `arbun diartikan dengan sejumlah uang yang diambil oleh penjual dari pembeli sebagai ‘tautsiq’ (pengikat) transaksi.

Jika pembeli melanjutkan transaksi, uang panjar dihitung sebagai bagian pembayaran, dan jika membatalkan transaksi uang panjar menjadi hak penjual.

Ulama berbeda pendapat tentang hukum jual beli `arbun (panjar). Mayoritas fuqaha –rahimahumullah- berpendapat transaksi ini ghairu shahih (tidak dibenarkan). Alasannya, ada hadits yang menyebutkan:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع العربون

“Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- melarang jual beli ‘arbun’ (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Sedangkan ulama Hanabilah membolehkan transaksi dengan `arbun.  Alasan yang dijadikan dasar kebolehan transaksi ini adalah:

Diriwayatkan bahwa Nafi` bin Abdul Harits membeli ‘Dar Sijni’ untuk Umar dari Shafwan bin Umayyah seharga 4000 dirham. Jika Umar menyetujui pembelian itu maka transaksi dianggap selesai. Dan jika Umar tidak melanjutkan, maka uang 4000 dirham menjadi milik Shafwan bin Umayyah.

Ibnu Qudamah –rahimahullah- setelah menyebutkan riwayat di atas, mencatat bahwa al Atsram –rahimahullah- bertanya kepada Imam Ahmad –rahimahullah: “Apakah engkau berpendapat boleh (`arbun)?” Imam Ahmad: “Apa lagi? Ini Umar yang melakukan.”

Adapun hadits yang melarang transaksi `arbun, oleh Imam Ibnu Hajar al Asqalani –rahimahullah- dianggap lemah. Sebab, ada perawi yang lam yusamma (tidak tersebut). Dalam riwayat Ibnu Majah perawi itu disebutkan yaitu Abdullah bin Amir al Aslami atau Ibnu Luhai`ah, dan keduanya lemah.”

Melihat perbedaan ini, Ibnu Al Qayyim –rahimahullah- menguatkan pendapat yang membolehkan. Beliau mendasarkan pilihannya pada riwayat Imam Bukhari dalam Bab Pensyaratan Yang Boleh. Bahwa Ibnu Aun bin Ibnu Sirin berkata kepada pemilik kendaraan sewa: “Saya akan bepergian bersamamu, jika aku tidak jadi berangkat pada hari yang ditentukan, bagimu 100 dirham. Ternyata Aun bin Sirin tidak jadi berangkat. Kemudian Syuraih –rahimahullah- berpendapat: Siapa yang mensyaratkan untuk dirinya secara sukarela, maka ia menanggung.”

Dari diskusi ini disimpulkan bahwa boleh melakukan jual beli dengan memberikan uang panjar (`arbun). Dan dibolehkan bagi penjual memiliki uang panjar jika pembeli membatalkan transaksinya, sebagai ganti kerugian atas biaya yang sudah dikeluarkan.

Walaupun lebih baik bila uang panjar dikembalikan sebagai bentuk kebajikan kepada orang lain, dan untuk menghindari perbedaan pendapat (khurujan min al khilaf).

Wallahu a`lam bisshawab

Malang, 5 Rabiul Awal 1438H

Join Telegram:
http://telegram.me/ahmadjalaluddin

Website :
https://www.tazkiyatuna.com

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,

About Administrator

Check Also

Menjual dengan Harga Berbeda dalam Pandangan Syariat Islam

Dr. H. Ahmad Djalaluddin, Lc., MA Tak masalah dengan praktik menjual dengan harapan mendapat laba. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.