Home / Sejarah / Sebening Hati Abu Bakar

Sebening Hati Abu Bakar

Abu Bakar -radliyallahu ‘anhu- tak miskin, tapi beliau lebih baik dari para sahabat-sahabatnya yang miskin.

Abu Bakar -radliyallahu ‘anhu- tak mengalami siksaan pedih seperti yang dialami oleh beberapa sahabat Rasulillah -shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi beliau diakui lebih baik dari mereka yang merasakan pedihnya siksa yang dilakukan para pembesar Qurays.

Abu Bakar -radliyallahu ‘anhu- turut berperang dan beliau tak mengalami luka parah sebagaimana dialami sahabat lainnya. Tapi, beliau lebih baik dari mereka yang terluka parah.

Abu Bakar -radliyallahu ‘anhu- tak gugur syahid, tapi beliau diakui lebih baik daripada yang syahid di jalan Allah.

Apa rahasia keunggulan khalifah pertama itu hingga mengungguli para sahabat yang lain?

Bakar bin Abdillah al Muzani -rahimahullah- berkata, “Keunggulan Abu Bakar bukan karena banyaknya shalat, puasa, atau lainnya… tapi karena apa yang ada dalam hatinya”.
Itulah yang menjadikan iman Abu Bakar al Shiddiq sekiranya ditimbang, akan mengalahkan iman penghuni bumi.

Iman itu amal hati, ucapan lisan, dan perbuatan fisik. Tapi, banyak yang hanya fokus pada bentuk fisik dan jumlah amal tapi lupa pada inti dan esensi amal.
Tiap amal dan ibadah memiliki sisi formal dan sisi substansial yang menjadi inti dan esensi.

Shalat itu formalnya adalah rukuk, sujud, dan rukun lainnya. Sedangkan intinya adalah hati yang khusyu’.

Puasa itu formalnya adalah imsak (menahan diri) dari Subuh hingga Maghrib. Sedangkan intinya adalah hati yang bertaqwa.

Formalitas haji adalah thawaf, sa’i, wukuf, melempar jumrah. Sedangkan substansinya adalah hati yang mengagungkan syi’ar Allah -ta’ala.

Formalitas doa adalah menengadahkan tangan, menghadap qiblat, dan lantunan doa. Dan inti doa adalah hati yang butuh (faqir) kepada Allah.

Dzikir itu formalnya adalah lantunan tasbih, tahlil, takbir, tahmid. Dan subtstansinya adalah mengagungkan, menyintai, takut, dan berharap kepada Sang Khaliq.

Amalan hati lebih utama dari pada amalan fisik. Tapi, amalan fisik dan amalan hati dituntut untuk disempurnakan. Keduanya tak mungkin dipisahkan.

Hanya saja, kelak yang terjadi adalah, “Pada hari ditampakkan segala rahasia” (QS. Al Thariq: 9); “dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan” (QS. Al ‘Adiyat: 10); dan yang selamat adalah “orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Al Syu’ara: 89); dan yang masuk surga adalah ” orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat” (QS. Qaf: 33).

Ya Allah, sematkanlah ke dalam hati kami apa yang telah Engkau sematkan ke dalam hati Abu Bakar. Anugerahkan kepada kami karunia sebagaimana yang Engkau anugerahkan kepada Abu Bakar.
Amin

Malang, 22 Ramadhan 1439H

About Administrator

Check Also

Sinergi Penguasa dan Pengusaha

Oleh:  Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA. Pada masa kepemimpinan Abu Bakar –radliyallahu `anhu- pernah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.