Home / Fiqih Muamalah / BARAKAH

BARAKAH

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Ada ungkapan “laisat al-‘ibrah bi al-katsrah, innamâ bi al-barakah”, yang penting bukan banyak, tapi barakah. Bila ungkapan ini dihubungkan dengan harta, maka harta yang sedikit tapi barakah lebih baik daripada banyak tapi tidak barakah.

Walaupun bila diminta memilih, tentu yang dipilih adalah banyak dan barakah.

Barakah berarti tumbuh, berkembang, bertambah, dan banyak kebaikan. Menurut _Ibnu Abbas –radliyallahu `anhu- al barakah berarti banyak kebaikan yang ada dalam apa yang kita miliki. Kata sahabat Nabi itu, ‘yang penting bukan berapa banyak yang anda miliki, tapi berapa banyak manfaat yang didapat dari apa yang dimiliki itu’.

Hubungan antara harta dan barakah disebutkan oleh Nabi Muhammad –shallallahu `alaihi wa sallama:

 إنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ :

1- عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ،

2- وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ،

3- عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ،

4- وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ (رواه الترمذي)

Dunia itu milik empat orang:
✅hamba yang diberi oleh Allah harta dan ilmu, dengan hartanya ia bertakwa kepada Rab-nya, ia menyambung silaturrahim, dan ia mengetahui hak Allah dalam harta itu, dia orang terbaik;
✅hamba yang diberi oleh Allah ilmu tapi tidak diberi harta. Ia memiliki niat yang tulus dan berkata, seandainya memiliki harta ia akan melakukan seperti orang yang pertama. Dengan niat tulusnya, ia mendapat pahala yang sama (dengan yang pertama);
✅hamba yang diberi harta tapi tidak diberi ilmu, hidupnya rusak karena harta tanpa ilmu; dia tidak bertakwa, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak Allah dalam harta. Dia orang terburuk;
✅hamba yang tidak diberi harta dan tidak diberi ilmu, tapi dia berkata, kalau punya harta dia akan melakukan seperti yang ketiga. Karena niatnya itu ia sama dengan yang ketiga dalam dosa.

Barakah dalam harta ketika si pemilik memahami apa yang harus dilakukan dengan hartanya. Dengan bertambahnya harta, bertambah takwa, bertambah erat hubungan kekerabatannya, dan bertambah pula kesadarannya bahwa dalam harta yang dimiliki ada hak Allah yang harus ditunaikan.

Wallahu a`lam bisshawab

Malang, 26 Safar 1438H
Join Telegram:
http://telegram.me/ahmadjalaluddin

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,

About Administrator

Check Also

Menjual dengan Harga Berbeda dalam Pandangan Syariat Islam

Dr. H. Ahmad Djalaluddin, Lc., MA Tak masalah dengan praktik menjual dengan harapan mendapat laba. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.