Home / Fiqih Muamalah / Ada Yang Gagal

Ada Yang Gagal

Oleh:  Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Ada tiga peserta ujian. Materi yang diujikan agak sulit. Masing-masing menderita sakit yang berbeda: kusta, rambut tak tumbuh (botak), dan buta. Mereka terkucil dari pergaulan.

Semua peserta tidak menyukainya. Mereka ingin sembuh. Pertama, ingin kulit bersih. Kedua,ingin rambut yang indah. Ketiga,ingin bisa melihat. Mereka ingin diterima oleh lingkungannya.

Harapan mereka terkabul. Al Syaafi (Allah) mengutus malaikat menawarkan kesembuhan dan mengobati. Atas izin Allah –ta`aala- mereka sembuh, kembali normal dan diterima oleh masyarakat.

Karunia Allah tidak sekadar kesembuhan. Mereka juga mendapat nikmat. Pertama, mendapat naaqatan `usyaraa`a (onta bunting). Kedua, diberi sapi bunting. Yang ketiga memperoleh kambing bunting.

Waktu berjalan. Tiga orang itu menjadi peternak sukses. Onta, sapi, dan kambing yang dipelihara berkembang biak. Ternak mereka memenuhi lembah-lembah. Ada lembah yang penuh dengan onta, sapi, dan kambing.

Mereka hidup bergelimang harta.
Kembali Allah -`azza wa jalla- menguji. Kali ini materi yang diujikan adalah kekayaan dan penerimaan lingkungan.

Allah SWT mengutus malaikat mendatangi orang-orang kaya itu. Berpenampilan sebagai musafir yang kehabisan bekal dan menderita sakit seperti yang pernah diderita oleh para peternak sukses itu.

Malaikat mendatangi mereka. Meminta bantuan. Mantan penderita kusta menolak kehadiran ‘musafir’ miskin. Enggan memberi bantuan dengan alasan masih banyak tanggungan. Saat diingatkan dengan masa lalunya, dia mengingkari. Saat diingatkan dengan asal-usul ontanya, ia ingkar.

Demikian pula sikap juragan sapi. Menolak memberi bantuan. Mengingkari masa lalunya. Mengingkari asal-usul kekayaan sapinya.

Malaikat mendatangi orang ke tiga. Berpenampilan sebagai musafir buta yang kehabisan bekal. Mantan si buta menyambutnya dengan hangat. Kepada tamunya, juragan kambing itu mengatakan,

“Dulu aku buta lalu disembuhkan oleh Allah. Dulu aku miskin lalu diberi kekayaan. Ambillah yang kamu inginkan.”
Akhirnya, Allah mempertahankan harta juragan kambing. Sedangkan juragan onta dan sapi kembali terpuruk.
Demikian kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam shahihnya.

Ujian keterpurukan dan ujian kekayaan. Saat terpuruk, ke tiga orang itu lulus. Mampu bersabar dan mampu menahan diri tidak melakukan pelanggaran. Tapi, saat ujian kekayaan dan kekuasaan, dua orang gagal. Hanya satu yang lulus.

Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- tidak khawatir bila umatnya terpuruk secara materi. Justru beliau khawatir bila umatnya diuji dengan kekayaan dan kekuasaan.

فَوَاللَّهِ لاَ الفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ» (صحيح البخاري)

“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian. Tapi, aku khawatir bila dunia ini dibentangkan untuk kalian, seperti umat terdahulu. Kalian pun berebut kekayaan dan kekuasaan, sebagaimana umat terdahulu juga berebut. Akhirnya, harta-tahta membinasakan kalian, sebagaima membinasakan umat terdahulu.” (Shahih Bukhari)

Wallahu a`lam bisshawab
Malang, 25 Muharram 1438 H

Join Telegram Kami :

https://telegram.me/ahmadjalaluddin

About Administrator

Check Also

Menjual dengan Harga Berbeda dalam Pandangan Syariat Islam

Dr. H. Ahmad Djalaluddin, Lc., MA Tak masalah dengan praktik menjual dengan harapan mendapat laba. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.