Home / Fiqih Muamalah / Ada Surga di Pasar

Ada Surga di Pasar

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Pasar Berevolusi
Pasar, antara dulu dan sekarang berbeda. Dulu pasar bersifat fisik. Pedagang dan pembeli bertemu wajhan bi wajhin (bertatap muka). Terjadi tawar-menawar secara lisan dengan diselingi senyuman.

Sekarang, pasar tidak hanya dimaknai secara fisik. Tetapi, pasar adalah pertemuan antara ijab dan qabul. Jual beli tak lagi secara lisan, tapi dengan tulisan kertas atau media elektronik. Tawar-menawar masih ada. Tapi, tidak lagi dengan lisan.

Senyuman pun tak lagi di bibir, tapi dilakukan oleh ‘jempol’ yang menekan tombol simbul senyuman. Meskipun pasar banyak mengalami perubahan, tapi ada yang tidak berubah.

Laba.
Pedagang dulu dan sekarang memiliki tujuan yang sama: mendapat laba. Semua pedagang berharap ada selisih antara harga beli (kulakan) dengan harga jual. Laba adalah total revenue (TR) – total cost (TC).

Setiap pedagang menginginkan laba. Tidak ada yang ingin rugi. Walaupun mereka tidak bisa memastikan keuntungan, sebab bisnis dalam perspektif Islam mengikuti kaidah – al kharaj bi al dhaman– (hasil yang diperoleh sesuai dengan risiko (biaya) yang ditanggung).

Pedagang selalu ingin mendapat laba besar. Keinginan itu tidak salah, karena secara syar`i tidak ada batasan kuantitatif besaran laba. Meskipun, secara kualitatif dijumpai batasan-batasan moral: kemudahan dalam transaksi, tidak mendholimi, tidak berbuat curang, dan sebagainya.

Bahkan dijumpai riwayat berikut yang bercerita tentang keabsahan laba hingga seratus persen. Syabib bin Gharqadah bercerita: Aku mendengar orang-orang bercerita tentang Urwah –radliyallahu `anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً، فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ، وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ، فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ.

“Sesungguhnya Rasulullah – shallallahu `alaihi wa sallama- memberi Urwah uang satu dinar untuk membeli kambing. Dengan uang itu Urwah bisa membeli dua ekor kambing. Kemudian satu ekor kambing, oleh Urwah, dijual seharga satu dinar. Urwah pun menemui Nabi dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Rasulullah mendoakan keberkahan transaksi jual beli bagi Urwah.” (Shahih Bukhari)

Menetapkan laba besar dibolehkan dalam Islam. Hanya saja, bagi pedagang muslim, tujuan bisnis tidak sekadar laba material. Aktifitas pasar itu ibadah, disamping tijarah (bisnis). Sebagai ibadah, bisnis di pasar tidak hanya tijarah ma`a al naas, tapi juga tijarah ma`a Allah.

Karena itu tujuan bisnis tidak hanya laba material tapi juga laba spiritual. Bila untuk mendapatkan laba material membutuhkan cost, maka untuk mendapatkan laba spiritual juga memerlukan cost. Itulah titik pertemuan antara ketiadaan batasan kuantitatif dengan batasan kualitatif dalam penetapan laba.

✅Sehingga laba bagi pedagang muslim adalah Total Revenue (TR) dikurangi Total Cost (TC) dikurangi Sipiritual Cost atau Berkah cost (BC). Berdagang untuk laba dan pahala. Di pasar mencari laba dan surga.

Imam Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan hadits yang bercerita tentang bisnis untuk laba dan surga.

” إِنَّ رَجُلًا كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، أَتَاهُ المَلَكُ لِيَقْبِضَ رُوحَهُ، فَقِيلَ لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ؟

قَالَ: مَا أَعْلَمُ، قِيلَ لَهُ: انْظُرْ، قَالَ: مَا أَعْلَمُ شَيْئًا غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا وَأُجَازِيهِمْ، فَأُنْظِرُ المُوسِرَ، وَأَتَجَاوَزُ عَنِ المُعْسِرِ، فَأَدْخَلَهُ اللَّهُ الجَنَّةَ “

“Sesungguhnya ada seseorang di zaman dulu. Ia didatangi oleh Malaikat yang akan mencabut nyawanya.”

Orang itu ditanya: “Apakah engkau melakukan kebaikan?”
Orang itu menjawab: “Saya tidak tahu.”
Dikatakan lagi: “Coba perhatikan lagi!”
Orang itu menjawab:
“Saya tidak tahu apapun. Hanya, saya terbiasa berjualan saat di dunia dan biasa memberi. Terhadap orang-orang yang mampu, saya memberi kemudahan dalam membayar. Terhadap yang kesulitan membayar, saya bebaskan dari tanggungan.”

Maka, Allah memasukkan orang itu ke dalam surga.”

About Administrator

Check Also

Menjual dengan Harga Berbeda dalam Pandangan Syariat Islam

Dr. H. Ahmad Djalaluddin, Lc., MA Tak masalah dengan praktik menjual dengan harapan mendapat laba. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.