Home / Fiqih Muamalah / Membeli Rumah Menggunakan Kredit Bank Syariah

Membeli Rumah Menggunakan Kredit Bank Syariah

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Rumah menjadi kebutuhan pokok. Masalahnya, dewasa ini, jarang yang mampu membeli secara tunai. Karena waktu yang diperlukan untuk menyisihkan pendapatan (menabung) dengan kenaikan harga rumah tidak sebanding, maka jual beli secara angsuran (al ba`i bi al taqshit) menjadi alternatif.

Bila al ba`i bi taqshit dilakukan secara langsung kepada developer (in-house) sangat baik. Tapi tidak semua developer mampu menerapkan model in-house. Akhirnya, menggunakan jasa perbankan menjadi pilihan. Hanya, yang disarankan adalah tidak melalui bank konvensional, tapi melalui perbankan syariah itupun sebagai alternatif terakhir.

Bila menggunakan jasa perbankan syariah, maka perlu diperjelas dua hal:
1. Pilihan akad yang digunakan,
2. Praktik/prosedur pelaksanaan akad itu.

Kesesuaian antara jenis akad dan prosedur pelaksanaan akad harus dipastikan guna menghindari keraguan masyarakat pada ke-syariah-an bank syariah.

Untuk kepemilikan rumah via perbankan syariah ada beberapa alternatif akad yang digunakan, seperti murabahah murakkabah bi al taqshith, musyarakah mutanaqishah, ijarah muntahiya bi al tamlik, dan sebagainya.

Murabahah

Murabahah adalah akad penyediaan barang berdasarkan prinsip jual beli, dimana bank membelikan kebutuhan barang nasabah dan bank menjual kembali kepada nasabah ditambah dengan keuntungan yang disepakati.

?Akad murabahah didasarkan pada dalil umum tentang jual beli:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al Baqarah: 275)

Bila akad murabahah yang menjadi pilihan, maka pembeli perlu mengajukan prosedur akad kepada pihak perbankan syariah dengan melakukan langkah-langkah berikut:
1⃣Pembeli menentukan pilihan rumah yang akan dibeli.

2⃣Rumah yang dipilih diajukan kepada bank syariah, agar dibeli terlebih dahulu oleh bank syariah.

3⃣Selanjutnya perlu bertemu antara developer (pemilik rumah), pihak bank syariah, dan calon pembeli yang membutuhkan rumah.

4⃣Dalam pertemuan itu, bank syariah membeli rumah dari developer dan dilakukan serah terima sertifikat rumah (bila sudah ada) atau kunci rumah, sebagai simbol pemindahan kepemilikan dari developer ke bank syariah. Akad jual beli dianggap sah meskipun dilakukan secara lisan saja.

5⃣Setelah rumah terbeli dan dimiliki oleh bank syariah, selanjutnya dilakukan akad murabah bi al taqshit dengan pembeli yang menginginkan rumah. Dalam akad ini bank syariah menyebutkan keuntungan yang diambil kemudian disepakati oleh pembeli. Juga disepakati besaran angsuran yang harus dibayar oleh pembeli serta waktu pelunasan.

Langkah-langkah di atas diperlukan agar unsur-unsur yang meragukan dalam praktik murabahah dapat dihindari. Selama ini keraguan terjadi bukan pada akad yang digunakan, tapi yang diragukan adalah prosedur pelaksanaan akad yang tidak sesuai dengan jenis akadnya. ❗️

Seperti, dalam praktik murabahah, bank syariah menjual rumah/barang yang belum menjadi miliknya, atau praktik murabahah sama dengan praktik hutang-piutang dengan mengambil keuntungan.

Wallahu a`lam bisshawab
(bersambung bahasan akad lainnya….)

Malang, 20 Rabiul Awal 1438H

http://tlgrm.me/ahmadjalaluddin

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,

About Administrator

Check Also

Zakat Untuk Jomblo

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA. Jumat subuh, 23 Desember 2016. Seperti biasa di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *