Home / Konsultasi / LUNAS HUTANG

LUNAS HUTANG

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

“Kalau manusia memiliki tanggungan (hutang) kepada sesama manusia, apakah nanti di akhirat tetap akan ditagih oleh Allah SWT, walaupun semasa hidup sudah meniatkan untuk membayarkannya?”

“Lalu bagaimana sebaiknya agar saya bisa tenang dan tidak memiliki beban hutang?”
Terimakasih atas jawaban Pak Ustadz.

 Jawab: 

Semua tanggungan belum dikatakan lunas sebelum ada sebab-sebab yang mengakhirinya. Bahkan terbawa hingga ke akhirat.

Tanggungan tidak hanya berupa hutang (qardl), tapi bisa terjadi oleh beberapa hal berikut:

  1. Akad atau transaksi yang dilakukan secara tidak tunai, seperti jual-beli, sewa-menyewa, dan qardl (hutang-piutang).
  2. Pelanggaran yang berakibat adanya tanggungan, seperti pembunuhan yang berakibat diyat (denda).
  3. Merusak harta milik orang lain.
  4. Menghilangkan milik orang lain dikarenakan keteledorannya.

Segala jenis tanggungan dikatakan lunas dan berakhir bila dilakukan hal-hal berikut:

  • Al Adaa’ , yaitu pihak yang memiliki tanggungan melunasi dan membayar tanggungannya.
  • Al Ibraa’, yaitu pihak kreditur membebaskan debitur dari segala tanggungan, pemilik barang membebaskan pembeli, penyewa, dan orang yang menghilangkan/yang merusak dari segala tanggungan.
  • Al Hiwalah, dimana pihak debitur memiliki sejumlah uang pada orang lain, kemudian ia meminta kepada orang itu untuk melunasi tanggungannya.
  • Qabdlu al Rahn, yaitu ada barang jaminan yang diserahkan untuk melunasi tanggungan.
  • Kafalah, yaitu ada pihak lain yang bersedia menjamin dan melunasi segala tanggungan.

Adapun tentang niat melunasi segala tanggungan, hadits berikut menjelaskan:

عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ عنِ النبيِّ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ: مَنْ أخَذَ أمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أدَاءَهَا أدَّى الله عنهُ ومَنْ أخَذَ يُرِيدُ إتْلافَها أتْلَفَهُ الله.

“Barangsiapa mengambil harta orang lain dan berniat melunasi, (maka) Allah akan membantu melunasi. Dan barang siapa mengambil harta orang lain dan berniat menghilangkan (tidak melunasi), maka Allah akan memusnahkan hartanya.” (HR. Bukhari)

Ali bin Sulthan Muhammad Al Qary dalam Mirqatu al Mafatih Syarh Misykat al Mashabih menjelaskan hadits ini:

“Barangsiapa berhutang untuk memenuhi kebutuhannya dan dia berniat serta bersungguh-sungguh melunasinya, niscaya Allah akan membantu melunasinya di dunia atau membuat rela lawannya di akhirat”.

Niat dan kesungguhan dalam melunasi bisa berupa tekad dan tindakan nyata. Seperti, mendatangi kreditur memohon maaf atas keterlambatan, mengangsur tanggungan meskipun sedikit, atau bekerja dengan giat berharap bisa melunasi, dan sebagainya.

Lalu bagaimana sebaiknya agar bisa tenang dan tidak memiliki beban hutang?

Semoga tips-tips berikut bisa membantu:
1. Niat yang baik, ada keinginan kuat untuk melunasi hutang.

2. Segera membayar ketika ada uang. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallama- bersabda, termasuk dhalim bila sudah memiliki uang tapi menunda pembayaran.

3. Perencanaan keuangan yang baik, mengatur belanja, agar tidak besar pasak daripada tiang.

4. Memperbanyak doa:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Yaa, Allah cukupi aku dengan rizki-Mu yang halal (sehingga) terhindar dari yang haram. Kayakan aku dengan karunia-Mu sehingga tidak lagi membutuhkan dari selain-MU”. (HR. Turmudzi)

Wallahu a’lam bisshawab.

Join telegram:
http://telegram.me/ahmadjalaluddin

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita.

About Administrator

Check Also

Cobaan Cinta & Setia

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA. TANYA : “Ustadz, saya ini sudah menikah dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *