Home / Fiqih Muamalah / KREDIT

KREDIT

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA

Transaksi jual beli ditinjau dari cara serah-terima objek akad dapat dibedakan dalam beberapa kategori:

1⃣ Tunai (naqdan), dimana barang dan harga diserahterimakan saat akad;
2⃣ Tidak tunai (dayn) yang dilakukan dengan salah satu dari beberapa cara berikut:

Barang diserahkan saat akad, sedangkan pembayaran di kemudian hari (bai` mu-ajjal).

Barang diserahkan saat akad, sedangkan pembayaran secara angsuran (bai` bi taqshit).

Pembayaran diserahkan saat akad, tapi barang diserahkan di lain waktu yang disepakati saat akad (salam).

Pembayaran dilakukan secara angsuran, dan barang diserahkan di waktu lain yang disepakati (istishna`).

Transaksi yang tidak tunai dengan ragam jenisnya ini, dalam istilah fiqih disebut dayn (kredit).

Kata Imam Qurthubi dalam _Al Jaami` li Ahkam al Quran,_ dayn adalah istilah bagi setiap muamalah dimana salah satu objek transaksi diserahkan secara tunai dan yang lain diserahkan secara tunda. Jadi, dayn (transaksi tidak tunai) bisa terjadi dalam jual-beli, sewa, qardl (hutang).

Hukum asal akad dayn (kredit) dibolehkan berdasar ayat 282 surat Al Baqarah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ…

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”

Praktik jual beli yang tidak tunai juga disahkan oleh Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama. Diantaranya, beliau membolehkan masyarakat Madinah mempraktikkan jual beli salam dengan syarat adanya kejelasan ciri-ciri barang yang dipesan, kualitas, kuantitas, waktu serah terima, dan sebagainya (Muttafaq Alaihi).

Rasulullah juga pernah membeli makanan dari seorang Yahudi nasi`atan (tidak tunai), beliau menjaminkan baju besinya” (Muttafaq Alaihi).

Varian lain transaksi tidak tunai adalah jual beli bi al taqshit (angsuran). Jenis ini juga dibolehkan dengan ketentuan dan syarat seperti hasil keputusan Majma’ Fiqih Islami (Jeddah) sebagai berikut:

Dibolehkan menetapkan harga angsuran melebihi harga kontan. Juga, boleh (saat penawaran) menyebutkan harga kontan dan harga angsuran, dengan catatan saat akad dipastikan dan dipilih salah satu harga. Tetapi bila saat akad tidak ada yang disepakati (antara yang kontan atau yang kredit), maka yang demikian tidak boleh.

Bila transaksi dilakukan secara angsuran, tidak boleh ada penambahan bunga (faidah) pada setiap pembayaran angsuran.

Bila pembeli terlambat membayar angsuran, tidak boleh ada denda; baik disyaratkan atau tidak. Karena denda atas tanggungan uang adalah riba.

Pembeli tidak boleh menunda pembayaran angsuran bila telah memiliki sejumlah uang untuk dibayarkan.

Penjual tidak boleh menahan barang yang sudah dijual (secara kredit), tapi boleh bagi penjual mensyaratkan kepada pembeli untuk menjadikan barang yang dijual itu sebagai ‘rahn’ (jaminan), guna menjamin haknya melalui pembayaran angsuran.

Wallahu a`lam bisshawab

Malang, 16 Safar 1438H.
?Join Telegram:
http://telegram.me/ahmadjalaluddin

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,,

About Administrator

Check Also

Menjual dengan Harga Berbeda dalam Pandangan Syariat Islam

Dr. H. Ahmad Djalaluddin, Lc., MA Tak masalah dengan praktik menjual dengan harapan mendapat laba. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *