Home / Fiqih Muamalah / KONSUMSI, INDIKATOR IMAN

KONSUMSI, INDIKATOR IMAN

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallama_- kedatangan tamu. Dia non muslim. Rasulullah menjamu tamu itu dengan ramah.

Beliau meminta sahabat memerah susu kambing untuk disuguhkan. Si tamu meminumnya hingga habis. Diambillah kambing ke dua untuk diperah. Susu disuguhkan dan si tamu meminumnya hingga habis pula. Hingga ada tujuh kambing yang diperah dan disuguhkan susunya. Semua yang dihidangkan habis tak tersisa.

Keesokan hari si tamu masuk Islam. Rasulullah menyuruh sahabat untuk tetap melayaninya dengan menyuguhkan hidangan yang sama, susu kambing. Disuguhkanlah gelas pertama dan si tamu meminumnya. Dilanjutkan suguhan yang kedua, si tamu meminumnya tapi tidak habis.

Rasulullah berkomentar:

الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ ، وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

“Orang mukmin itu minum dengan satu lambungnya sedangkan orang kafir minum dengan tujuh lambungnya.” (HR. Muslim)

Makan-minum adalah rutinitas. Karena kebiasan, kita menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Berbeda dengan Nabi. Bagi beliau, makan dan minum bukan perkara sederhana. Makan-minum sebagai salah satu indikator iman.

Iman itu keyakinan, ikrar dan perbuatan. Dan perbuatan makan-minum menjadi salah satu ukuran iman. Mukmin minum satu gelas dan kafir minum tujuh gelas.

Umar bin Khatthab –radliyallahu ‘anhu- gemar menjaga keimanan saudara-saudaranya dengan kriteria ‘kuantitas’ yang dikonsumsi ini. Khalifah ke dua itu pernah melihat uang satu dirham di tangan Jabir bin Abdillah –radliyallahu ‘anhu.

Umar bertanya: “Dirham itu (untuk) apa?”

Jabir: “Untuk membeli daging. Keluargaku menginginkannya.”

Umar: “Apakah setiap yang engkau inginkan engkau membelinya? Apakah engkau tidak ingin melipat perut demi kerabat dan tetangga? Apakah engkau lupa pada ayat: “Kalian telah menghabiskan kenikmatan –thayyibat- di kehidupan dunia”. (Al Ahqaf: 20)

Ayat ini secara teks ditujukan kepada orang kafir. Mereka telah menghabiskan berbagai kenikmatan dunia sehingga yang tersisa di akhirat adalah adzab.

Tapi, Umar berpandangan lain. Ayat ini tidak hanya untuk yang kafir, melainkan tertuju pada siapa saja yang berlebihan dalam menggunakan kenikmatan yang mubah (boleh). Muslim yang berlebihan dalam konsumsi juga terancam: “Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik di dunia dan kamu telah bersenang-senang dengannya”.

Mukmin itu hemat (al qashdu), tidak pelit dan tidak boros.

Abdul Malik bin Marwan bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz: “Umar, apa nafkahmu yang engkau berikan kepada anakku saat menjadi istrimu nanti?”

Umar bin Abdul Aziz: “Nafkahku adalah kebaikan di antara dua keburukan.”
Kemudian beliau membaca:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al Furqan: 67).

Itulah mukmin.

Wallahu a’lam bisshawab

Join Telegram:
http://telegram.me/ahmadjalaluddin

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita.

About Administrator

Check Also

Zakat Untuk Jomblo

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA. Jumat subuh, 23 Desember 2016. Seperti biasa di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *