Home / Ekonomi Syariah / Kebangkitan Ummat dalam Membangun Kemandirian Ekonomi

Kebangkitan Ummat dalam Membangun Kemandirian Ekonomi

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Kesadaran dan semangat umat untuk mandiri ekonomi patut diapresiasi dan disyukuri. Setelah menyadari adanya tantangan besar, umat tergerak untuk ‘bersatu’ melangkah. Kini, bisa disaksikan bahwa masyarakat ‘yadkhuluuna fi diinillah afwajan’, berbondong-bondong ingin berkontribusi menjadi bagian dari kesadaran kolektif dalam amal islami ini.

Kesadaran itu langkah awal, bukan satu-satunya modal. Untuk mandiri ekonomi, disamping kesadaran dan semangat, juga dibutuhkan pemahaman karakteristik amal islami. Bahwa amal islami dalam bidang apapun, dari ibadah hingga muamalah, yang diinginkan adalah optimalisasi implementasi (ahsanu `amala). Amal yang ahsan (terbaik) dalam bidang apapun.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al Mulk: 2)

Ahsanu `amala menghendaki adanya ketaatan pada substansi ajaran, pada pedoman dan panduan pelaksanaan serta pilihan untuk menciptakan titik optimal. Karena itu dalam membangun kemandirian ekonomi umat diperlukan fiqhu al ahkam (pemahaman terhadap hukum dan aturan), kaifiyat al tathbiq (tata cara pelaksanaan), dan ikhtiyar al afdhal (memilih yang utama dan optimal).

Kesadaran dan semangat hanyalah salah satu modal dalam implementasi amal islami, termasuk dalam membangun kemandirian ekonomi. Guna melengkapi langkah awal ini, diperlukan kemampuan memahami aspek-aspek hukum ekonomi dan bisnis yang syar`i, kemampuan dan kepiawaian aspek idariyah (manajemen), serta tingkat moralitas yang tinggi.

Terkait pemahaman hukum, disebutkan dalam Al Adab al Syar`iyyah dengan sanad yang shahih bahwa Umar bin Khatthab berpesan:

تَفَقَّهُوْا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوْا

“Berbekallah pemahaman (hukum) sebelum dipercaya memimpin”.

Tentang aspek manajemen dan moralitas, Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berpendapat bahwa yang diperlukan adalah al ashlah (yang paling kompeten) untuk setiap manshab (jabatan: politik, militer, ekonomi, dan sebagainya). Pada setiap level jabatan itu diperlukan dua pilar utama, yaitu al quwwah wa al amanah (kekuatan dan amanah).

Kekuatan dalam militer terkait dengan keberanian dan skill serta strategi perang. Kekuatan dalam jabatan hukum terkait dengan pengetahuan tentang keadilan yang diajarkan oleh Al Kitab dan Sunnah.

Sedangkan amanah terkait dengan khasyyatullah (takut kepada Allah) serta tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah yang ditunjukkan oleh ayat, _“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit”_ (Al Maidah: 44).

Terilhami oleh analisis Ibnu Taimiyah ini bahwa dalam membangun kemandirian ekonomi umat, perlu melengkapi modal kesadaran dan semangat dengan modal moral dan profesional. Bila melihat pada praktik bisnis Nabi Muhammad –shallallahu `alaihi wa sallam- dua modal itu tertanam sangat kuat dalam diri beliau.

Moralitas tertanam dalam diri Muhammad melalui proses sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dla`if sanadnya tapi shahih maknanya, “Rab-ku mendidikku, maka Ia sangat baik didikan-Nya terhadapku”.

Sedangkan aspek profesionalitas tertanam kuat pada diri Muhammad melalui ketelatenan Al Abbas dan Abu Thalib. Dua paman Nabi itu adalah coach handal yang mengajarkan skill dan strategi bisnis kepada keponakannya itu. Hasilnya, seperti dikisahkan dalam Istiratijiyyah Sittah Rijal al A`mal Haula al Rasul (Strategi Bisnis 6 Sahabat Nabi), Abu Thalib mendatangi Khadijah mencarikan pemodal yang siap bermitra bisnis dengan Muhammad.

Khadijah pun menjawab, “Wahai Abu Thalib, siapa pun yang kau ajukan untuk aku pekerjakan akan aku terima, apalagi yang kau usulkan adalah keponakanmu sendiri”.
Modal kesadaran patut disempurnakan.

Secara simultan kesadaran dan semangat itu dilengkapi melalui proses tarbiyah (pembinaan) menanamkan moralitas dan profesionalitas, agar harapan umat tidak kandas. Semoga istiqamah dengan spirit dua-dua belas (212).

Wallahu a`lam bisshawab
Jember, 18 Rabiul Awal 1438H.

http://tlgrm.me/ahmadjalaluddin

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,

About Administrator

Check Also

Pengusaha Muslimah pada masa Rasulullah SAW

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA. Khadijah binti Khuwailid –radliyallahu `anha. Wanita mulia dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *