Home / Sejarah / Sirah Nabawiyah / Jalan Keridhoan Allah SWT

Jalan Keridhoan Allah SWT

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Ridha dan ikhlash berbeda. Disebut ridha bila terkait dengan yang diterima dan dialami. Maka, ungkapan yang tepat adalah,

“Saya ridha mendapat bagian ini dan mengalami rugi.”

Adapun ikhlas terkait dengan yang dilakukan atau diberikan. Sehingga ucapan yang tepat adalah, “Saya ikhlas memberikan bagian saya dan melakukan semua ini untukmu.”

Ridha itu surga. Ridha itu nikmat. Ridha itu jalan terindah menuju Allah –suhnanahu wa ta`ala. Bahkan ridha merupakan jalan pintas menuju puncak cinta: Allah -`azza wa jalla. Kata Ibnu Qayyim al Jauziyah –rahimahullah, “Jalan ridha itu jalan pintas yang sangat dekat menuju ajalli ghayat (tujuan termulia), tapi berat. Meski demikian, jalan ridha tidak sesulit jalan mujahadah ….”

Ridha terhadap perlakuan baik atau menerima yang disukai itu mudah. Tapi, ridha saat menerima perlakuan atau sesuatu yang tidak diinginkan itu sulit. Meskipun demikian, pasti ada jalan.

Abdullah bin Ziyad bercerita, “Setelah berpetualang ke Timur dan Barat, Dzulqarnain kembali. Sesampainya di Babelonia, beliau menderita sakit parah. Beliau merasa inilah sakit yang akan mengantarkan pada kematian. Beliau menulis surat kepada ibunya untuk menghibur agar tidak bersedih bila mendengar kematian putranya. Surat itu berisi pesan,

“Bunda, bila surat ini tiba, buatlah makanan yang banyak dan undanglah masyarakat sebanyak yang Bunda mampu. Tapi, jangan sampai orang yang tertimpa musibah ikut menikmati hidangan itu. Ketahuilah, yang demikian agar Bunda bisa mengambil keputusan yang tepat. Sesungguhnya aku berharap tujuan yang aku tempuh lebih baik daripada kondisiku saat ini.”

Setelah menerima surat, si ibu memasak makanan yang banyak dan mengundang masyarakat. Si ibu menyampaikan kepada hadirin, “Harap yang mengalami musibah tidak menikmati hidangan ini!” Ternyata, tak seorangpun menikmati hidangan yang tersedia. Si ibu baru sadar dan mengerti maksud surat Dzulqarnain. Beliau berkata, “Nak, sekarang Bunda paham dan sadar. Bahwa engkau menasihati Bunda. Engkau menghibur dan Bunda terhibur. Fa `alaika al salam (Semoga kedamaian untukmu), baik dalam keadaan hidup atau mati.”

Inilah jalan ridha: al mushibatu idza `ammat, haanat (musibah itu, bila banyak yang mengalami maka akan terasa ringan). Karena itu, bila sakit lihatlah bahwa orang lain yang mengalami hal serupa juga banyak. Bila rugi, lihatlah yang mengalami kerugian juga banyak. Bila kalah, lihatlah bahwa engkau tidak sendiri mengalami kekalahan. Apalagi, engkau masih punya harapan: Allah.

وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Nisa`: 104)

Wallahu a`lam bisshawab

Sumber kisah: Marhaban bi Qadla`i Llaah, Abu Hafash Muhammad bin Sayid Makki, Raqm al Ida` bi Dar al Kutub al Mishriyah: 19764/2014, hal. 259.

Tahdzib Madarij al Salikin, Ibnu Qayyim al Jauziyah, Al Maktabah al Qayyimah, Cairo, tt., hal. 366.

Malang, 29 Rabiul Awal 1438H

About Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *