Home / Ekonomi Syariah / HARGA DI MARKET 212

HARGA DI MARKET 212

Oleh:  Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Di dekat rumah ada pasar tradisional. Agak jauh dari rumah ada pasar modern. Kadang hati tergelitik membandingkan harga di dua tempat itu, melihat harga pada barang yang sama. Memang beda. Bahwa harga di pasar modern lebih tinggi daripada pasar tradisional.

Mengapa berbeda ?

Mencoba meraba-raba sebabnya. Mungkin beban pajak di modern market lebih tinggi. Atau biaya sewa tempat yang tinggi sehingga pajak dan biaya sewa menjadi komponen pembentuk harga, di samping bunga, cost karyawan, dan keuntungan yang diharapkan. Pada akhirnya semua komponen itu dibebankan kepada konsumen: Harga.

✅Dalam obrolan ringan dengan dua sahabat, saya mendapat pencerahan. Saya anggap informasinya valid, sebab keduanya berasal dari perusahaan yang produk-produknya listing di pasar tradisional dan pasar modern. Dalam obrolan itu saya ingin mengetahui lebih jauh mengapa di pasar modern harga lebih tinggi (bukan mahal, karena mahal itu relatif).

Dua sahabat itu memberikan informasi yang sama, bahwa cost yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak hanya terkait dengan proses produksi. Biaya terbesar justru terkait dengan ‘pasar’. Logika ‘pasar modern` berbeda dengan pasar tradisional. Kalau toko (pasar tradisional), biasanya, pemilik membeli (kulakan) barang untuk dijual kembali di tokonya.

Sedangkan di pasar modern, logika yang dibangun adalah ‘saya punya pasar, bila anda menjual di pasar saya, maka ada syarat yang harus dipatuhi, termasuk syarat ‘cost’ yang harus dikeluarkan.
Informasi dari dua sahabat saya itu, bahwa untuk bisa masuk dan bisa dipasarkan melalui pasar modern, biaya yang harus dikeluarkan adalah:

Listing Fee. Biaya awal untuk bisa masuk ke dalam sistem pasar modern. Biaya dikenakan untuk produk baru (merek baru atau varian baru). Untuk listing fee ini mencapai milyaran rupiah (antara 5 hingga 10 milyar) untuk satu jenis produk.

Biaya sewa rak (di luar rak reguler). Biasanya untuk block space di racking, khususnya area “eye catching”, rak atas, atau rak yang punya traffic tinggi biayanya lebih besar.

Gondola. Pencantuman nama brand yang cukup besar di atas rak. Biasanya seperti neon box.

POS (Point of Sales). Bila memasang tulisan tambahan untuk memikat konsumen agar berhenti di area rak tempat produk yang dikeluarkan perusahaan pemasok.

Promosi. Yaitu discount tambahan, misalnya buy 1 get 1 free atau 30% discount. Jadi yang memberi discount itu perusahaan pemasok, bukan pengelola modern market.

SPG. Tenaga penjual yang mengenakan seragam perusahaan pemasok. Mereka bukan tenaga penjual pasar modern, sehingga yang menggaji adalah perusahaan pemasok.

 Penalty. Biaya yang akan dikenakan bila service levelnya kurang dari 90%. Service level adalah tingkat pemenuhan order dari pasar modern ke perusahaan pemasok.

Pada akhirnya, biaya-biaya di atas dialihkan kepada konsumen, harga. Saya juga bertanya, apakah pasar-pasar modern yang dimiliki oleh muslim atau organisasi Islam juga menetapkan komponen biaya yang sama? Jawaban sahabat saya, ‘Tidak jauh berbeda’.

 Bagaimana konsep harga yang akan diterapkan oleh market 212?

Tergantung targetnya: mengalihkan pasar muslim saja?

Meringankan biaya belanja bagi muslim?  Atau kedua tujuan itu ?
Semoga lebih ringan. Apalagi bila sumber modal yang digunakan berasal dari dana waqaf, infak, atau ‘investasi zakat’.

?Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallama- bersabda:

رَحِمَ اللهُ عبدًا سَمْحًا إذا باعَ ، سَمْحًا إذا اشْتَرى ، سَمْحًا إذا قَضَى ، سَمْحًا إذا اقْتَضَى

“Semoga Allah merahmati hamba yang mudah dalam menjual, mudah dalam membeli, mudah dalam melunasi, dan mudah dalam menagih”. {Hadits Shahih}

Wallahu a`lam bisshawab.

Malang, 3 Rabiul Tsani 1438H
?Join Telegram:
http://tlgrm.me/ahmadjalaluddin

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin.

About Administrator

Check Also

Kebangkitan Ummat dalam Membangun Kemandirian Ekonomi

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA. Kesadaran dan semangat umat untuk mandiri ekonomi patut …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *