Home / Tazkiyatunafs / An Nashihah (Nasehat)

An Nashihah (Nasehat)

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (الدِيْنُ النَّصِيْحَةُ قَلُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ الله ؟ قَالَ : للهِ ، وَلِكِتَابِهِ ، وَلِرَسُوْلِهِ ، وَ لِاَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ) رواه مُسْلِم .

Dari Abi RuqayaTamim bin Aus al Dariy –radliyallahu `anhu, sesungguhnya Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- bersabda, “Agama itu nasihat.” Shahabat bertanya, “Bagi siapa ya Rasulallah?”Rasulullah menjawab, “Bagi Allah, bagi Kitab Allah, bagi Rasul Allah, bagi pemimpin Islam dan umat Islam”. (HR. Muslim)

Makna Nashihah

Makna bahasa dari ‘nashihah’ adalah _al khulush_ (bersih, murni). Disebut nasihat karena ucapan itu murni tidak ada dusta. Karena itu, nasihat berarti ucapan yang disampaikan dengan tulus dan ikhlas karena ada keinginan kebaikan bagi yang dinasihati.

Akidah:

Nasihat kepada Allah –subhanahu wa ta`ala- bermakna ikhlas dalam beribadah. Tidak ada syirik, riya`, dan sum`ah. “… Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)….(Al Zumar: 2-3)

Sosial:

Nasihat untuk umat Islam dengan cara mengarahkan kepada kebaikan dan kemanfaatan dalam urusan dunia dan akhirat. Juga berarti membantu memenuhi kebutuhannya, menutupi aib-aibnya, membela kehormatannya, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran.

Akhlak

Redaksi hadits _‘wa li aimmati al muslimin wa `ammatihim’_ dan tidak dengan redaksi _‘wa li `ammatihim’,_ berarti keharusan bagi masyarakat untuk mengikuti para ulama dan menghormati mereka.

Keilmuan

Nasihat kepada Al Kitab bermakna:
?Mengimani yang mutasyabih (ayat-ayat yang memiliki ragam makna atau makna yang samar) sebagaimana mengimani yang muhkam (ayat yang jelas maknanya).
?Mengamalkan hukum-hukum yang dikandungnya.
?Membela Al Quran bila dinista dan dihina.

 Politik

?Nasihat untuk pemimpin berarti taat dalam kebajikan, bukan dalam kemunkaran. Ibnu ‘Abbas berkata tentang ayat, “Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kamu”, ayat ini turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin ‘Adi.

Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallama- mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah karena sesuatu, lalu ia berkata, ‘Bukanlah Rasulullah memerintah kalian untuk mentaatiku?’
Mereka menjawab, ‘Betul.’

Dia berkata lagi, ‘Kumpulkanlah kayu bakar.’ Kemudian ia meminta api lalu membakarnya dan berkata, ‘Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya.’
Seorang pemuda di antara mereka berkata. ‘Sebaiknya kalian lari menuju Rasulullah dari api ini. Jangan terburu-buru (mengambil keputusan) sampai kalian bertemu Rasulullah. Jika beliau perintahkan kalian untuk masuk ke dalamnya, maka masuklah.’

Lalu mereka menghadap Rasulullah dan mengabarkan tentang hal itu. Rasulullah pun bersabda, _‘Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada yang ma’ruf.” (HR. Bukhari-Muslim)

?Nasihat kepada para pemimpin dengan mengingatkan mereka agar adil dalam memerintah, berhati-hati dalam memilih staf dan penasihat, meringankan beban rakyat, dan kembali kepada ajaran Allah –subhanahu wa ta`ala.
?Pemimpin sangat membutuhkan orang-orang yang bisa menasihati mereka dengan ikhlas dan jujur. Bukan orang-orang yang mencari ‘muka’ dan pembisik-pembisik yang justru menjerumuskannya.

 Fiqih Dakwah

?Nasihat itu pahit, sedikit sekali orang yang sanggup menerimanya dengan lapang dada. Karena itu bagi para da`i agar bijak dalam memberi nasihat. “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…” (Ali Imran: 159).

?Perlu memilih tempat dan waktu yang tepat saat memberi nasihat, sebagaimana perlu memilih kata dan kalimat yang tepat untuk disampaikan. Ada pepatah: nasihat di hadapan banyak orang adalah pelecehan.

Wallahu a`lam bisshawab
Disarikan dari: Idhah al Ma`ani al Khafiyyah fi Al Arba`iina al Nawawiyah, Muhammad Tatay, Dar al Wafa`, Manshurah, 1414-1994, hal. 64-68.

Malang, 14 Rabiul Awal 1438H.
?Join Telegram:
http://telegram.me/ahmadjalaluddin

Silahkan disebarkan channel Telegram ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah kita. Aamiin,

About Administrator

Check Also

TIPS Menghilangkan Sumpek Dari Al Quran

Oleh:   Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA. 1⃣ Bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *